Berpizza Denganmu “Chapter 1”

“Siang Bu Mirna, nama saya Alan Wira Subrata biasa dipanggil Alan, umur 22 tahun, tinggi 175cm, berat badan 68kg, asal Yogyakarta. Saya pribadi yang mudah bergaul, cepat mempelajari hal baru, serta pandai mengaplikaskan program komputer seperti MS Office dan Solitaire. Kebetulan saya di Jakarta masih kuliah semester akhir, jadi waktu saya cukup banyak untuk bekerja part time di Pizzanana. Motivasi saya melamar menjadi delivery man adalah untuk menghidupi diri saya sendiri di tengah kerasnya kehidupan Jakarta. Kalau melamar anak orang saya belum berani Bu, karena belum ada calonnya HAHAHAHA. Maaf Bu kelepasan. Mengenai profil lainnya ada di CV yang telah saya kirim lewat email. Terima kasih.”

Lalu Bu Mirna hanya menjawab, “Oke akan saya pertimbangkan, keputusannya minggu depan.”

Dengan langkah gontai aku keluar dari ruang wawancara. Otakku mulai mengajak untuk pesimis mengingat sudah 3 kali digantung dan kemudian ditolak oleh pemilik toko. Menurut kalian ada yang salah dengan perkataanku tadi? Aku pikir semua terasa benar. Aku tak pernah berbohong dengan umur, tinggi badan, pun berat badanku. Penguasaanku terhadap Solitaire juga melebihi masyarakat pada umumnya. Apalagi perkara calon pasangan hidup, aku selalu jujur. Sudah 3 tahun aku tidak berpacaran. Terakhir tahun 2013 dengan Asri, dia yang memutuskan. Katanya “kita udahan ya, kayaknya kamu gak bisa ngehidupin aku deh.” Entah dia yang materialistis atau aku yang terlalu miskin.

Memang, sepeninggal Bapak, keluarga kami diperhadapkan dengan berbagai situasi yang sulit. Ibu yang tadinya hanya mengurus rumah dan arisan sekarang harus berjualan kue demi terciptanya perputaran uang yang stabil. Apalagi Bima masih harus meneruskan sekolahnya di SMK, sudah pasti membutuhkan uang yang tidak sedikit. Untung saja mereka berdua hidup di Jogja dengan biaya hidup yang tidak terlalu tinggi. Tetapi tetap saja aku sebagai anak pertama diberikan tongkat kekuasaan dari Bapak untuk menjaga keluarga dari segi finansial maupun sosial. Atas dasar itulah selama 3 tahun ini aku selalu mencari pekerjaan sampingan sembari kuliah. Jadi, putus dari Asri yang konsumtif menurutku adalah salah satu keputusan yang tepat.

Mengenai pekerjaan, aku memiliki pengalaman menjadi delivery man selama 3 tahun di 3 tempat berbeda. Pertama, Restoran Padang. Semua karyawannya berasal dari Padang. Bahkan kucing Pak Hassan si pemilik resto pun lahir di Padang. Hanya ada dua spesies bernyawa yang tidak berasal dari Padang, Aku dan Anwar, ikan arwana di tengah ruang makan. Aku rasa cukup menyenangkan bekerja di sana. Kau bayangkan, setiap selesai bekerja aku selalu dibungkuskan nasi padang mulai dari lauk telur sampai rendang. Sayang, aku harus berhenti setelah 15 bulan bekerja karena restoran milik Pak Hassan kalah saing dengan kompetitor yang selalu berkata sederhana padahal harganya bikin pengen jual ginjal.

Selang 2 bulan aku diterima di salah satu restoran ayam cepat saji asal Amerika. Di tempat ini aku mulai merasakan kerasnya mencari uang di Jakarta. Gimana gak, dari waktu 9 bulan aku bekerja, 7 bulan kebagian shift malam. Muka kusam, rambut berantakan, kantung mata gelayutan. Udah kayak panda gagal ujian nasional. Gara-gara tenaga yang terforsir, aku pun jatuh sakit dan harus dirawat inap. Mengetahui kondisi anaknya yang payah, Ibu menyuruh untuk segera resign dan mencari pekerjaan yang lebih baik.

Orang bijak pernah bilang “selalu ada hikmah di dalam setiap musibah.” Itu yang terjadi ketika aku masuk rumah sakit. Dokter Edy yang merawatku kebetulan memiliki toko bunga, lalu aku ditawarkan untuk bekerja di sana sebagai kurir bunga. Dengan penuh semangat aku mengiyakan tawaran dokter Edy. Toko yang berukuran 5mx6m tersebut dikelola oleh Santi, anak beliau. Saat itu hanya aku dan Santi yang mengurusnya. Kuantitas pertemuan membuat hubungan kami semakin dekat. Tidak jarang Santi selalu membawakanku bekal untuk dinikmati ketika makan siang. Baru kali itu aku merasa ada sosok yang terlalu baik untuk dijadikan pasangan hidup. Sampai akhirnya dokter Edy mengetahui kedekatan kami dan memutuskan untuk memecatku agar tidak lagi berhubungan dengan Santi. Aku memaklumi, masa iya anak seorang dokter terkenal berpacaran dengan serbuk kayu. Bikin malu!

Itulah sebagian pengalamanku dalam hal mencari sesuap nasi. 2 bulan sejak berpisah dengan Santi aku belum mendapatkan pekerjaan lagi. Aku rasa Pizzanana adalah harapan demi kesejahteraan perut dan segala isinya. Tolong doakan ya agar minggu depan ada kabar baik dari Bu Mirna. Tenang, kalau diterima akan kubawakan pizza untukmu. Tepat di depan pintu rumahmu.

 

1 Comment on Berpizza Denganmu “Chapter 1”

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*