Berpizza Denganmu “Chapter 3”

“Cara Ampuh Menjadi Kaya dalam 10 Hari” gumamku dalam hati di pojok salah satu toko buku. Belakangan aku memang sering mampir ke sini untuk membaca sinopsis buku motivasi. Iya sinopsis yang ada di sampul belakang buku, karena aku belum sanggup membelinya. Lha wong buat makan aja mikir-mikir, masa harus beli kumpulan omong-kosong-yang-herannya-aku-juga-tertarik seharga ratusan ribu. Aku rasa tindakanku ini tepat, selain berhemat aku juga memupuk semangat menanti panggilan kerja dan terhindar dari keinginan gantung diri.

Di sinopsis buku karangan Ir. Amat Sukendro ini tertulis bahwa kesuksesan hanya untuk orang-orang yang tekun dan giat bekerja. Sek sek, aku yang tadinya pengen cari motivasi kok malah jadi pesimis begini. “Lah gimana mau giat bekerja kalau sampai sekarang belum punya kerjaan?! Giat yang lain kek! Giat berdoa kek, giat bangun pagi kek, giat memandikan ular sanca kek!” Seketika aku memutuskan untuk keluar, tidak lupa membanting buku dengan sopan untuk menandakan bahwa aku kesal setengah mati.

Kembali melewati gugusan Sudirman menuju kepulangan. Masih dengan keadaan yang sama. Skripsi gak jelas, kerjaan apalagi, duit di dompet sisa empat puluh ribu rupiah. Itu belum kepotong sama hutang warteg. Aku mempercepat langkah agar terhindar dari sengatan matahari yang akan memaksaku membeli minuman jika terus-terusan di jalan. Makin gerah = makin haus = makin keluar duit = armageddon / hujan meteor / kiamat / bangkitnya dajjal.

******

Ada 2 hal terbaik yang ada di kamarku. Yang pertama adalah kipas angin bermerek miyako. Tingginya kira-kira sebahu. Bisa dipendekin juga, pokoknya sesuai selera kamu. Dia selalu setia memberikan hawa sejuk seantero ruangan. Terus bergerak, terus meneduhkan. Sama seperti doa yang selalu aku gulirkan.

Kedua adalah foto keluargaku di atas lemari kecil di samping kasur. Pigura berukuran 20×25 cm tersebut berisikan sosok Ibu, Bima, Aku, dan mendiang Ayah yang sedang duduk di atas rumput sekitar hutan Pinus. Ibu memegang rantang kesukaan. Bima menenteng robot favoritnya. Aku menirukan gaya Tom Cruise di film Top Gun. Dan Ayah, memeluk kami bertiga. Hangat sekali, seperti matahari pukul sepuluh pagi.

Sesampainya di kosan, aku membaringkan badan. Tepat di sebelah foto keluarga. Menatap langit-langit yang tertutup gypsum. Merasakan angin dari kipas miyako. Mengizinkan pikiranku melayang jauh melebihi batasnya, menjauh dari yang seharusnya. Masa depan rasanya gelap. Bahkan lebih gelap dari pejaman mata. Aku putus asa.

Naluriku menuntun kepada sebotol pembasmi serangga yang tergeletak di sebelah koran lama. Muncul ide liar di kepala, mengakhiri nyawa. Kuminum segera, satu teguk, dua teguk, sampai kepada entah sepuluh atau dua puluh. Tubuhku bereaksi yang semestinya. Menggelinjang, bergetar, bergerak serabutan. Herannya, aku masih sempat mendengar ada panggilan masuk melalui handphone sebelum hilang sadar. Pada layar tertulis “Mirna Pizzanana.”

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*