Berpizza Denganmu “Chapter 4”

Tanganku yang biasanya dingin tiba-tiba mendadak begitu hangat. Meskipun belum sepenuhnya bisa melihat, aku yakin betul siapa yang menggenggamku. Sosok yang lebih spesial dari martabak terenak di seluruh dunia. Pribadi yang lebih tulus dari puisi Sapardi Djoko Damono. Seseorang yang mencintaiku lebih dari diriku sendiri. Dia adalah Sri Astuti, perempuan yang bersedia perutnya aku tinggali selama 9 bulan 8 hari.

Ibu sudah 3 hari berada di Jakarta demi merawat peminum cairan pembasmi serangga. Menyuapi, menyeka, bahkan menidurkan. Di satu sisi aku senang sekali bertemu dengan Ibu. Tetapi di lain hal aku merasa kasihan. Tindakan bodohku memaksa Ibu untuk merogoh kantong dalam-dalam. Bayangkan saja berapa ongkos yang harus Ia keluarkan untuk biaya perjalanan ke Jakarta dan perawatanku. Mungkin kalau dijumlahkan hasilnya bisa digunakan untuk biaya hidup di Jogja selama satu bulan penuh. Kau pikir Ibuku akan marah? justru karena Ia tidak marah, aku jadi semakin merasa bersalah. Ibu selalu tersenyum dalam setiap situasi. Indah, seperti mekaran mawar saron di pegunungan Libanon.

“Sore ini kita bisa pulang ke kosan, Lan” kata Ibu sambil memasukan baju ke dalam tas.

“Iya Bu, sekali lagi Alan minta maaf sudah merepotkan Ibu, Alan janji gak akan….”

Belum sempat menyelesaikan kalimatku, Ibu sudah memeluk. Menyandarkan kepalanya di bahuku. Mengusap punggungku dan berbisik “Sudah Alan, gak usah janji sama Ibu, berjanjilah dengan dirimu sendiri.” Kubalas dengan pelukan yang lebih erat dari biasanya.

******

Sesampainya di kos aku disambut oleh Rano dan Ahmad, teman satu kosan. Merekalah yang membawaku ke rumah sakit dan menghubungi keluargaku. Mungkin kalau gak ada mereka, aku sudah mati, kalian gak akan bisa baca tulisan ini. Rano dan Ahmad berasal dari Palembang, sudah 5 tahun tinggal di Jakarta berdagang gorengan. Aku sempat diajak join, tetapi aku tolak. Bukan karena gengsi, tetapi aku takut bangkrut karena gorengannya kumakan sendiri.

Setelah membantu mengangkat tas dan koper, Rano dan Ahmad bertukar cerita dengan Ibu di teras. Maklum, mereka jauh dari keluarga, jadi kalau ada orang tua di kosan suka sekali diajak cerita. Dari mulai topik politik sampai gosip selebriti mereka bisa menanggapi dengan akurat. Aku pernah tanya ke mereka kenapa bisa ngobrol dengan bermacam topik. Katanya pengetahuan itu didapat dari koran-koran bekas pembungkus gorengan. Jadi sebelum dipakai, mereka baca dulu tuh satu per satu. Aneh kan? Hahaha. Kapan-kapan kau kukenalkan dengan mereka ya.

“Alannn!! Gua punyaa kabarrr!!!” teriak Rano sambil berlari menuju kamarku.

“ANJERR KAGET WOOY!! APAAN?”

“Jadi waktu itu kan lu sekarat. Eh ada yang telpon tuh namanya Mirna. Gua angkat dong. Terus katanya lu suruh nelpon balik”

“LAHHH BU MIRNAAA?? KENAPAA GAK BILANG DARI KEMARENNN!!!”

Sepersekian detik setelah mendapat kabar dari Rano, aku segera menelpon Bu Mirna.

“Halo…. Bisa bicara dengan Bu Mirna?”

“Iya saya sendiri”

“Oh kok sendiri Bu? Pacarnya mana?”

“Ini siapa ya, jangan main-main sama saya!” nadanya semakin mengeras.

“Maaf bu, maaf. Ini Alan yang melamar sebagai delivery man di Pizzanana. Beberapa hari lalu Bu Mirna telepon saya tetapi saya sedang dirawat  di rumah sakit”

“OH! Alan yang minum pembasmi serangga karena putus cinta ya?! Hahaha ada-ada saja kamu, saya pikir kamu sudah mati” sumpah ketawanya kenceng bener kayak lagi main kora-kora.

“Hehe iya Bu, bukan karena cinta Bu, tapi …. “

“Hashh saya gak perlu penjelasan kamu, yang penting saya butuh kehadiran kamu di tempat saya. Kapan kamu bisa? Saya butuh cepet. Kalo bisa besok”

“Kalau lusa bagaimana Bu? Besok kebetulan saya harus mengantar Ibu saya”

“Oke. Saya tunggu”

“Baik Bu Mirna, trima kas… “

“tutt tutt tutt tutt”

Telepon ditutup. Aku menatap mata Rano yang ada di depanku. Perasaanku campur aduk. Antara ingin berbagi kebahagiaan karena mendapat pekerjaan. Atau memilih mencongkel kornea matanya karena telah menceritakan kisah cintaku ke Bu Mirna. Segera kupanggil Ibu dan Ahmad yang masih ada di teras. Kuceritakan percakapanku barusan. Kami semua tertawa, semua bahagia. Sudah sepantasnya momen ini dirayakan. Merasa diperlukan, Rano dan Ahmad membawa sepiring hangat berisi gorengan.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*