Bulan Puasa di Mata Saya

Dilihat dengan kasat mata, nama “Imanuel Andreas” sudah menyimpulkan bahwa saya bukanlah pemeluk agama mayoritas di Indonesia, apalagi pemeluk kamu. Iya, namanya kristen banget, agak khawatir ketika tua nanti cucu-cucu saya akan merasa aneh manggil saya dengan sebutan “Eyang Nuel”, “Kakek Nuel”, “Kakung Nuel”, namanya gak kakekable.

Menjadi kristen di negara ini gampang-gampang susah. Gampangnya, saya pribadi masih bisa menjalankan ibadah (padahal gak pernah ke gereja) dengan baik walaupun ada juga yang tempat ibadahnya dipermasalahkan ormas tertentu. Susahnya, kekristenan masih dijadikan isu untuk menghambat laju seseorang di dunia politik. Misalnya ketika Jokowi masih menjadi calon presiden, banyak isu disebar kalau beliau adalah seorang pemeluk nasrani (cek di sini), walaupun akhirnya isu itu dibantah. Hal ini memberi kesan bahwa memeluk agama selain mayoritas merupakan sebuah kekurangan seseorang, bukankah lebih baik kita mempertimbangkan karakter dan kinerja daripada harus pusing ngurusin keyakinan seseorang?

Menjadi kristen tidak membuat saya antipati dengan segala bentuk perayaan teman-teman muslim. Jujur, saya salut dengan ketaatan teman-teman yang selalu menyempatkan shalat 5 kali dalam 1 hari. Apalagi besok kita memasuki bulan puasa, teman-teman muslim akan menahan segala bentuk hawa nafsu selama satu bulan, keren.

Saya selalu suka bulan puasa, bahkan kadang saya juga ikut puasa, karena melakukan hal baik secara bersama-sama itu jauh lebih menyenangkan daripada nyolokin mata pake garpu pop mie. Jalanan dekat kosan ketika menjelang buka puasa selalu dipadati stand penjual makanan, dari kue-kuean sampai segala macem nasi-nasian, membahagiakan.

Bulan puasa mengajarkan kebersamaan. Selama satu bulan penuh, anak-anak kosan (batang semua) selalu tidur di ruang tengah, katanya biar bisa saling ngebangunin kalau sahur. Pernah kejadian tahun lalu mati listrik waktu semua anak kosan udah tidur, baterai handphone abis, semua kesiangan karena gak ada satupun alarm yang nyala, gagal sahur tapi tetap puasa, pulang kantor pucet semua.

Semua stasiun televisi ketika bulan puasa pasti menayangkan program religi, entah itu kultum, sinetron, bahkan iklan. Banyak hal baik yang disebarkan secara massive melalui layar kaca, membuat aura positif menyebar dengan sempurna. Asik ya.

Pada akhirnya setelah satu bulan, semua ini akan dirayakan dengan menurunkan ego masing-masing, merendahkan hati, memberikan sapaan hangat lalu diteruskan dengan saling memaafkan setiap kesalahan yang pernah dibuat. Sebuah perayaan mulia yang saya rindukan setiap tahun, walau beda kepercayaan tetapi saya yakin bahwa hal baik selalu datang dari manapun dan untuk siapapun.

Selamat menjalankan ibadah puasa 🙂

“Jangan nginep kosan adek dulu ya mas”
Rahmi, 20thn, hendak tobat

7 Comments on Bulan Puasa di Mata Saya

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*