Cerpen : “Ganteng – Ganteng Mesias”

“Kringggg….kringggg…kringggg”, jam weker hadiah doorprize di Bait Allah semalam membangunkanku dari tidur. Seperti biasanya, hari ini Aku harus sekolah, lahir dari Roh Kudus tidak membuatku semata-mata mengabaikan pendidikan, kasian Ayah yang harus kerja pontang-panting buat membiayai sekolahku, belum lagi Ibu dengan usaha cateringnya.

“Ini buat makan siang”, kata ibu sambil memberikan kotak berisi nasi oseng tempe kesukaanku yang kemudian diteruskan dengan ciuman di kening, Aku pun berangkat.

Seperti biasanya, matahari Nazaret pagi ini lebih panas dari bisikan iblis, dan kampretnya Aku lupa bawa payung. Rambutku makin merah terkena sinar ultraviolet, udah kayak alay dahsyat. “Yesussss!!!”, terdengar suara perempuan berteriak dari belakang. Aku pun berhenti berjalan, menyadari bahwa Rani yang berteriak sedang berlari ke arahku. Kami pun berjalan bersama ke sekolah, kepalaku tak lagi panas karena sudah berlindung di bawah payung Rani, berdua.

“Cieeeeeeeee payungan berduaaa cieeeeee!!!”, Ujo dan Arif kompak menggodaku di gerbang sekolah, untungnya Rani sudah masuk ke kelasnya duluan. “Kagak nyettt, temenan doang!”, balasku cepat.

Rani memang terkenal sebagai siswi yang cantik dan pintar di sekolah. Berbagai macam penghargaan sudah dia raih, baik tingkat kabupaten maupun nasional. Selain itu, dia juga jago banget masak, dari masakan romawi sampai madura bisa Rani kreasikan dengan hebat. Karenanya, adek kelasku itu pernah diundang Pontius Pilatus untuk masak makan malam di dapur kerajaan. Menurut kabar yang beredar pula, dia katanya suka sama aku. Hehehe.

“Selamat pagi anak-anak, hari ini adalah hari Senin pertama di Bulan Oktober, itu artinya Ibu akan melakukan inspeksi ketertiban, buat yang seragamnya tidak sesuai dengan peraturan akan dikenakan peringatan untuk segera memperbaiki, dan yang rambutnya gondrong Ibu akan langsung potong hari ini juga”, tegas Bu Lina di depan kelas. “Huuuuuuuu!!!”, teriak teman-temanku satu kelas.

Bu Lina adalah wali kelasku di SMA, menjelang ujian nasional pihak sekolah memang mulai gencar melakukan penertiban agar selalu mendapatkan akreditasi baik dari pemerintah. Dengan mata setajam elang, Bu Lina memperhatikan satu per satu muridnya, sampailah beliau di meja Ujo dan Arif. “Nahhhhh Ujo Arif kenapa nih masih gondrong?? kan udah Ibu bilang rambutnya gak boleh nglewatin kuping, masih ngeyel, sini Ibu Potong!”, teriak Bu Lina gemas. “Bentar bu bentar, kok cuma kita Bu yang di potong rambutnya?? Yesus kok gak ikutan???”, balas Ujo kesal. “Yesus kan Anak Allah, bebas dia mau gondrong kek mau cepak abri kek, terserah dia!!”, balas Bu Lina tak kalah kesal. Aku tersenyum kecil.

“Teeeeettttttttttt”, bel makan siang dibunyikan.

Seketika kantin terlihat lebih penuh dari konser JKT 48. Aku pun membuka bekal berisi nasi oseng tempe yang Ibu buat tadi pagi. Sebagai anak tukang kayu, aku harus berhemat karena jajanan kantin sekarang mahal banget, momogi aja seribuan, mending ditabung buat beli obat penahan rasa sakit untuk persiapan disalib.

Di sela-sela menikmati masakan Ibu, Sinta menhampiriku sambil membawa bekalnya. “Yesus makan apa siang ini??”, tanya Sinta. “Makan buah-buah roh… hahahhaa… engga deng, nih makan oseng tempe buatan Ibu, kamu makan apaan?”, jawabku sambil melahap beberapa sendok nasi hangat. “Wahhh, aku pernah pesan catering di Ibu Maria, enak bangett masakannya, ni aku makan nasi ayam, kita makan bareng yaa.. mari makannn”. Kami pun makan bersama sambil sesekali tertawa.

Sinta adalah temanku satu kelas, anak kedua dari tiga bersaudara, pribadinya sederhana dan sangat menyenangkan. Kalau ngobrol sama dia pasti ada saja yang kita tertawakan. Sinta selalu memiliki topik yang asik buat dibicarakan, dan itu membuatku selalu nyaman berdiskusi dengannya. Menurut kabar yang beredar pula, katanya Sinta suka sama aku. Hehehe

Hari sudah semakin sore, pertanda kegiatan belajar-mengajar telah berakhir. Aku segera membereskan buku dan peralatan menulis karena harus menyusul Ayah untuk membantunya membuat beberapa meja makan. Jarak dari sekolah ke bengkel kayu Ayah sekitar 10km, sama kayak dari pancoran ke kuningan city. Sayangnya di sini gak ada gojek.

Sesampainya di bengkel, Ayah menyambutku dengan pelukan hangat yang rasanya selalu sama, seperti sebuah pelukan terakhir. “Oiyaa nak, ini ada Pak Harun dan puterinya, beliau ini yang pesen meja makan di tempat kita, salim dulu”, Ayah membuka percakapan di antara kami. Seketika aku mengenalkan diri dengan di depan Pak Harun dan putrinya yang bernama Martha. Aku diminta Ayah untuk mengajak ngobrol Martha sementara Ayah dan Pak Harun membicarakan desain yang akan dipesan.

Seperti basa basi pada umumnya, kami membicarakan tentang sekolah, karena hanya topik itu yang sama-sama kita kuasai saat ini. Tadinya mau diskusi tentang hukum taurat kayak waktu di Bait Allah bareng penatua sana, tapi pasti dia males, kan cewek gak suka sama cowok baik-baik. Ehe ehe ehe ehe.

Setelah hampir satu jam ngobrol, akhirnya Pak Harun dan Martha memutuskan untuk pulang karena urusan desain sudah selesai. Ayah terlihat bahagia karena harga yang dia tawarkan disetujui oleh Pak Harun, duit sekolah bulan ini aman lah. Sebelum keluar bengkel, Martha menghampiriku sambil berbisik “Aku harap kita bisa ngobrol lagi kayak tadi, dahh Yesus”. Lalu, dia bergegas pergi, Aku tersenyum kecil.

Waktu sudah menunjukkan pukul 7 malam, saatnya bagi kami untuk makan malam bersama sambil membicarakan kegiatan hari ini. “Suami dan Anakku yang pualing guanteng sedunia!! makanan sudah siapp!! ayooo!!”, teriak Ibu sambil merapikan meja makan. Aku dan Ayah berlari menghampiri meja makan, dengan doa yang kupimpin, kami pun mulai menyantap masakan Ibu dengan lahap.

Selesai makan, kami mulai menceritakan kegiatan hari ini. Dimulai dari Ayah yang tangannya tergores paku dan kebahagiannya karena ada beberapa pelanggan baru mulai berdatangan. Ibu tak kalah menggebu, beliau bercerita tentang hidupnya yang menjadi berkat untuk sekitar serta membawa pengaruh baik ke para tetangga untuk tidak bergosip. “Nah sekarang giliran anak kita yang tercinta, Kamu gimana hari ini nak ganteng?”, tanya Ibu sambil menatap tajam ke arahku.
“Ya biasa bu, yang suka aku nambah lagi”, kataku sambil tersenyum kecil.

(tulisan ini hanya fiksi semata, tidak ada tujuan melecehkan atau menjelek2an agama tertentu, saya cuma penasaran dan membayangkan masa-masa Yesus ketika remaja, piss love and gawl)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*