Cerpen : Surat dari Paha

surat dari paha

Matahari pagi ini terlalu terik untuk sekelompok anak SMA yang lupa bawa topi upacara. Belum lagi tatapan Bu Hadi yang lebih tajem dari paku payung semakin membuat pagi ini serasa hari-hari menuju armageddon. Mungkin itu sudah menjadi kewajiban Bu Hadi sebagai kepala sekolah untuk membuat murid-murid takut berbuat onar di daerah kekuasaannya.

Anak-anak yang Ibu cintai, 2 minggu lagi kita segera memasuki ujian nasional untuk siswa-siswi kelas 12. Itu berarti kalian harus lebih disiplin dan rajin belajar. Kurangilah bermain game online dan main sosial media, perbanyak membaca dan latihan menyelesaikan soal-soal yang telah guru-guru berikan. Ibu yakin dengan doa dan ketulusan, sekolah kita akan mencetak kelulusan 100%. AMIN“, ya itu adalah cuplikan sabda Bu Hadi yang gue inget di sela-sela menahan sinar ultraviolet masuk melalui celah-celah kecil.

Jadi sesuai dengan yang dikatakan Bu Hadi, beberapa hari lagi gue bakal ikut ujian nasional (UN). Dengan skill mengingat yang tidak terlalu mumpuni, kayaknya gak main sosmed dan perbanyak membaca bukanlah solusi yang tepat buat kondisi gue saat ini. Gue cuma butuh Alan, temen deket gue yang memiliki kemungkinan disebut nabi jika lahir di zaman Mesir kuno.

***

Alan jauh lebih pinter daripada gue. Dia selalu dihukum bukan karena gak disiplin, tetapi karena mau nemenin gue, kalau kata dia “solidaritas men!”. Kesetiakawanan Alan udah gak perlu dipertanyakan, dia selalu minjemin gue duit kalau nunggak SPP, pernah bantuin ngelabrak adek kelas yang umurnya 10 tahun di bawah gue, yang paling bikin terharu, Alan mutusin cewenya karena gue diputusin Mira secara sepihak.

Mira adalah produk Jawa-Sunda yang dianugerahi body aduhai dibalut kulit kuning langsat dan memiliki topping rambut sebahu hitam pekat. Sesuai paragraf 4, dia adalah mantan gue. Pahitnya, gue dan Mira satu kelas, jadi gue selalu tahu pergerakan asmaranya setelah putus walaupun Mira selalu ngediemin gue.

***

Nyet, udah siap kan?“, kata gue sambil menyantap bubur ayam kantin. “Udah Bim, lo gimana? gue gak bisa kasih contekan nih, katanya pengawasan ketat banget, lo napas aja diitungin apalagi waktu masuk kelas lo bakal digeledah“, jawab Alan serius. Seketika gue terdiam, darah berhenti mengalir, tertunduk lemas mengingat gue terlalu mengandalkan Alan Widodo. Masa depan gue terlihat mulai samar.

Jam dinding sudah menunjukkan pukul 08.00 WIB, peserta ujian secara otomatis membentuk barisan untuk digeledah lalu masuk ruangan. Kita cuma boleh bawa pensil, penghapus, penggaris, dan rautan. Setiap ruangan diawasi oleh 2 orang pengawas. Kiamat.

Gue duduk di kursi nomor 4, dilihat dari segi geografis, posisi gue strategis banget. Gue di kursi paling belakang, depan diisi oleh Alan, tetapi apa artinya posisi strategis jika tidak ditunjang dengan permainan lihai contek mencontek. Oiya, kanan gue Mira.

30 menit berlalu, gue cuma diam di tempat. Tertunduk mencari inspirasi sambil sesekali menatap kosong ke arah peserta ujian yang lain. Sampai akhirnya tatapan gue berhenti di Mira. Sosok yang pernah mengisi hidup gue cukup lama. Dan gue yakin Mira masih sayang sama gue, terbukti dia masih memilih untuk sendiri.

Semakin lama gue menatap Mira semakin sadar kayaknya ada yang salah. Mira terlihat selalu menunduk sambil sesekali mengisi jawaban di lembar ujian. Dan gue menyadari kalau MIRA NYONTEK!!!. Karena rasa penasaran yang bercampur dengan keadaan dimana gue gak belajar, maka gue mencoba memicingkan mata dan berharap dapat melihat jelas isi kertas di paha Mira. Gue pun mulai membaca dalam hati..

“Mira Sayang, masih bete ya? Handphone kamu kok gak bisa dihubungin, ditelpon juga putus mulu, tapi gapapa yang penting kita jangan putus yaa. Aku minta maaf sama salahku kemaren. Kamu betenya jangan lama-lama yaa. Nanti sepulang dari bromo aku bawain es krim kesukaan kamu. Aku jadinya berangkat berdua sama Alan, yang lain mendadak gak bisa. Nanti aku doain kamu juga pas udah sampe puncak ya. Biar hubungan kita langgeng terus lulus ujian juga. Yaudah sayang, tolong jangan bete lama-lama. hehehehe.

Yang selalu sayang kamu,

Rahdyan Abimanyu

Gue terdiam, Mira masih nyimpen surat yang gue tulis 3 bulan lalu dan rupanya ada yang berubah di surat itu, Mira menambahkan sebuah kalimat di bawah surat
In memoriam, Abimanyu

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*