Dua Puluh Enam

Enam hari lalu saya menginjak umur 26, dua hari kemudian bertemu dengan seorang ibu yang bertanya “Mas, kuliah di mana?”, dan tepat dari semalam aku kangen kamu. Ciegitu.

Menurut Departemen Kesehatan RI, umur 26 tahun merupakan usia dengan kategori Dewasa Awal. Dewasa dalam pengertian mampu membedakan mana yang baik dan tidak untuk dilakukan, serta sudah cukup umur untuk melihat tayangan bertema biologis, contohnya animal planet.

Time Flies….

Masih jelas di ingatan, ketika saya balita belajar mengendarai sepeda bersama Ibu. Beliau memberikan motivasi yang cenderung menekan mental, hingga akhirnya saya mengatakan “COBA MAMA NAIK SEPEDA KE BANDUNG !!” perkataan yang terlalu fiksi mengingat jarak rumah saya ke Bandung ketika itu sekitar 400km, yah namanya juga anak-anak.

Masih jelas di ingatan, ketika saya menginjak Sekolah Dasar. Banyak hal sederhana yang membuat bahagia, seperti main bentengan, pergi ke kebun singkong lalu mengambil beberapa batang tanpa izin yang empunya, dan masih banyak lagi kegiatan bermain yang seru hingga lupa waktu, syukurlah ketika itu belum kenal main perasaan.

Hidup terasa menyenangkan, kebahagiaan lanjut mengikuti saya memasuki Sekolah Menengah Pertama. Mulai mendapatkan perhatian dari lawan jenis yang terasa lebih mewah dari kumpulan tazos dan kartu bettleborg. Cinta monyet kala itu membuat eek kucing terasa seperti isian coklat sari roti, semua terlihat asik.

Selepas SMP saya pun hijrah ke sebuah kota yang terdiri dari Rindu dan Cinta, Jogjakarta. Berpindah ke kota dan lingkungan yang baru untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi, Sekolah Menengah Atas. Hidup mulai lebih kompleks, bukan lagi tentang menikmati kebahagiaan yang sangat mudah didapatkan tetapi bagaimana menciptakan sebuah kebahagiaan.

Atas beberapa pertimbangan keluarga, saya pun berkuliah di Jogja. Memilih jurusan Teknik Sipil dengan alasan “Mau kayak di film JOMBLO”. Ya, film besutan Hanung Bramantyo memang mengambil setting Teknik Sipil yang akhirnya menginspirasi saya pribadi, padahal waktu itu belum ngerti kalau ternyata mata kuliahnya susah, tahu gitu kan dulu ambil Tata Boga.

Masa kuliah dilalui dengan jatuh bangun. Banyak pembelajaran hidup yang sangat bermanfaat dan mendewasakan saya, contohnya mematikan kran setelah air di bak penuh, menguras bak mandi, serta menaburkan bubuk abate agar tidak terkena demam berdarah.

Selepas kuliah, saya memasuki dunia kerja, gak lagi minta orang tua, dan lebih serius menata masa depan. Beberapa kali pindah kota untuk mengisi pundi-pundi biar bisa bayar spp anak kita kelak. Namun sekarang semesta sementara menempatkan saya di Jakarta dengan segala baik buruknya.

Dan, terpujilah Tuhan masih memberikan napas dan pembelajaran sampai sekarang. Hingga saat ini, kebahagiaan masih menyambangi kehidupan saya, beberapa cita-cita perlahan mulai tergapai, dan ada kamu yang bikin seru hidupku.

Kamu…..

Bukan bermaksud untuk berlebihan, tetapi setelah perjalanan yang kacrut, mungkin momen ini aku beri nama -pelangiabisujanmomen- . Kamu kayak air waktu aku lagi kehausan, kamu kayak pendonor waktu aku lagi kehabisan darah walaupun sampe sekarang aku gak tau golongan darahku apa, dan kamu kayak mamanya bakabon.

Terimakasih kepada Tuhan yang lewat Deschavyana mempertemukan kita, terima kasih telah sudi menemani mengawali umur 26-ku dengan seru. Dan semoga keseruan itu berlanjut terus sampai komik bakabon kita diwariskan ke cucu-cucu.

“Sayang, aku punya pertanyaan, kenapa kalo makan mulutnya harus dibuka?”
-Rachel, Partnernya Nuel-

2 Comments on Dua Puluh Enam

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*