Gambar Bercerita (1)

Seperti biasa, pagi ini aku masih terbangun di bawah atap yang sama, langit Jakarta. Tak jauh berbeda dengan hari yang lalu, ketakutan untuk tidak dapat bertahan hidup di Ibu Kota masih membelenggu. Tapi untungnya masih ada Ningsih, wanita yang sudah 20 tahun tidur bersamaku, mendengar kerasnya dengkuran dan segala mimpi yang terlalu mustahil untuk diraih.

“Ini Pak diminum dulu”, Ningsih memberikan satu gelas air mineral yang kami beli tadi malam sambil merapikan tempat tidur yang harus disulap menjadi trotoar sebelum matahari meninggi. Tidak lama aku pun ikut membantu membenahi ruangan, serta menyiapkan “bejo” dan “siti” untuk kembali berjuang di negeri ini.

Matahari sudah semakin tinggi, pertanda bahwa sudah saatnya kami untuk bergegas pergi, aku menggendong “bejo” dan Ningsih merangkul “siti”. Dengan bekal beberapa aqua yang bermerek prima, kami perlahan menelusuri jalanan.

Sudah beberapa tuan rumah menyambut kami dengan lambaian tangan sambil berkata “lainnya aja mas”, aku dan Ningsih paham betul bahwa itu adalah kalimat paling menyakitkan ketiga setelah “Aku udah gak cinta sama kamu” dan “Sayang, aku selingkuh”.

“Ini rumah ke sembilan di pagi ini dek”, kataku kepada Ningsih sambil menatap kosong ke balik pagar.
“Iya Pak, lagu barunya sudah hapal kan?”, Ningsih mencoba memastikan.
“Lumayan lah”, Aku meyakinkan dengan sejuta keraguan.

Berat bebanku, meninggalkanmu
Separuh nafas jiwaku, sirna
Kasihku, sampai di sini
Kisah kita, jangan tangisi keadaannya
Bukan karena kita berbeda
Dengarkan, dengarkan lagu
Lagu ini, melodi rintihan
Hati ini
Kisah kita, berakhir
Di Januari

“Bagus Pak lagu barunya”, Ningsih berbisik sambil berharap cemas menanti tuan rumah keluar memberikan recehan.
“Makasih dek, nanti aku ngapalin lagunya Wali yang lain, biar kamu suka”.

2 Comments on Gambar Bercerita (1)

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*