Kami Butuh Kesempatan

Beberapa waktu yang lalu saya menonton ulang pertunjukan stand up comedy oleh Pandji Pragiwaksono yang bertajuk Mesakke Bangsaku. Sesuai dengan judul show tersebut, Pandji banyak mengangkat topik kebangsaan, salah satu bit yang tidak terlupakan buat saya adalah tentang difabel atau dalam bahasa inggris disebut differently-abled.

Pandji mengatakan “Teman-teman difabel itu bukan cacat, mereka differently abled, mereka bisa tetapi beda, seharusnya mereka punya hak yang sama dengan kita untuk bisa berkarir di Indonesia, tapi gak bisa karena gak ada fasilitasnya”. Tidak sampai di situ, Pandji meneruskan dengan membeberkan beberapa bukti minimnya fasilitas untuk teman-teman difabel di Indonesia. Misalnya, trotoar yang minim (sekalinya ada dijadikan jualan pecel lele) dan ketidak tersedianya ramp (landaian) untuk naik turun tangga. Pedih.

Berangkat dari sana, saya mulai membayangkan bagaimana kalau saya hidup sebagai difabel. Minder, tidak percaya diri, malu, dan gak mau nembak cewek karena takut ditolak mungkin akan menjadi bagian dari hidup saya. Hidup tanpa kesempatan.

Kenyataan ini lah yang mendorong seorang Sri Lestari untuk berani mengubah ….

IMG_2637 (1)

Sri Lestari bukan nama restoran yang biasa disamperin Bus Antar Provinsi, beliau adalah wanita yang menginspirasi teman-teman difabel di seluruh Indonesia, atau bahkan dunia. Mbak Sri Lahir di Klaten dan mengalami kelumpuhan sejak umur 23 tahun karena sebuah kecelakaan sepeda motor, umur dimana kita sedang senang-senangnya berkarya, ibarat kamu diputusin pas lagi sayang-sayangnya. Pedih.

Kesulitan bergerak membuat Mbak Sri sempat merasakan putus asa, murung, kehilangan kemandirian seakan sudah tidak ada lagi kesempatan untuk dia berkarya. Semua berubah setelah ada titik yang mencerahkan, Mbak Sri dihadiahi kursi roda dari UCP, dan kemudian merakit sepeda motor yang telah dimodifikasi untuk mengembalikan kemandiriannya. Yaa, namanya juga orang baik pasti selalu diberikan jalan keluar untuk segala permasalahan.

“Kami tidak perlu dikasihani, kami hanya perlu diberi kesempatan…” – Sri Lestari

Ya, Kesempatan. Itulah yang Mbak Sri ingin teriakan kepada seluruh masyarakat Indonesia. Kesempatan yang sama seperti manusia pada umumnya. Teman-teman difabel tidak butuh belas kasihan, karena mereka bukan tidak mampu, mereka bisa dengan cara yang berbeda. Inilah yang melatarbelakangi petualangan Sri Lestari, perjalanan yang akan menginspirasi teman-teman difabel lainnya agar tetap semangat menjalani hidup, tetap bahagia sepertinya, dan menyadarkan semua lapisan masyarakat serta pemerintah untuk lebih peduli, tanpa terkecuali.

Mbak Sri sebelumnya telah melakukan perjalanan Aceh-Jakarta-Bali, bukan dengan leyeh-leyeh di mobil atau duduk santai di pesawat, tetapi beliau melakukannya dengan mengendarai sepeda motor roda tiganya, GOKILLL!!! Kita yang gak difabel aja boro-boro mau naik motor antar provinsi, pergi ke warung aja manggil ojek.

Misi Mbak Sri bukan hanya Aceh-Jakarta-Bali, bulan September 2015 rencananya beliau akan melanjutkan perjalanan inspiratifnya, kali ini giliran Pulau Sulawesi yang bakal jadi saksi perjuangan Sri Lestari.

img_2496 (1)
rute perjalanan Mbak Sri di Sulawesi

Saya mungkin adalah satu dari sekian banyak orang yang percaya bahwa di Indonesia masih banyak orang baik, termasuk kamu yang membaca tulisan ini. Dan mari kita dukung perjalanan Mbak Sri, kalau bukan kita siapa lagi? Siluman harimau? Ganteng-ganteng serigala?

Kamu cukup sebarkan berita ini ke teman-teman kamu. Semangati Mbak Sri bisa juga mention ke akun twitternya @sriklaten . Untuk yang ingin berpartisipasi memberikan dukungan berupa materi bisa dengan berdonasi ke rekening pribadi Mbak Sri, CIMB Niaga 8050100576120 a/n Sri Lestari, atau bisa juga menyalurkan melalui link berikut ini : https://kitabisa.com/perjalananmbaksri

Mari lebih peduli terhadap anak negeri. 🙂

2 Comments on Kami Butuh Kesempatan

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*