Mencoba Berpikir Seperti Lia Eden

Masih hangat di memori kita tentang surat dari Ibu Lia Aminuddin (kerap disapa Lia Eden oleh pengikutnya dan dipanggil “kak” oleh mbak-mbak Indomaret) kepada Presiden Jokowi, isinya Ibu Lia meminta izin untuk mendaratkan UFO yang ditumpangi oleh Malaikat Jibril. Rencananya UFO itu akan landing di Monas. Sayangnya ramalan Ibu Lia keliru, sampai detik ini belum ada UFO yang mendarat di Monas, saya sebagai penikmat teori konspirasi merasa kecewa. Huft.

Selain surat ini, Lia Eden juga pernah membuat kontroversi lain, salah satunya menyebut Pak Ahok sebagai titisan Sun Go Kong, entah ini sebuah kebanggaan atau pelecehan. Dibilang kera tapi kok sakti, dibilang sakti tapi kok kera. Dibilang benci tapi kok sayang, dibilang sayang tapi kok benci. Yah, memang beginilah cinta, deritanya tiada berakhir.

Balik lagi ke Ibu Lia Eden, buat saya dia adalah sosok yang menarik, penuh imajinasi, semacam psychedelic. Karena pemikirannya yang out of the box dia menjadi populer, terbukti ada 1.260.000 hasil pencarian ketika kita ngetik “Lia Eden” lewat mesin pencari google, padahal Nunung Srimulat cuma 108.000 dan Sri Mulyani hanya menghasilkan 434.000. Sudah jelas bahwa Ibu Lia Aminuddin lebih populer daripada Ibu Pelawak dan Ibu Ekonom.

Kenapa saya bilang dia adalah sosok yang memiliki cara berpikir menarik? coba apakah di antara kamu ada yang pernah kepikiran tentang malaikat jibril nyetir UFO? gila men! ini sih brilian banget. Menggabungkan aspek agama dan science, yang kita sama-sama tahu bahwa keduanya sangat bertentangan. Inilah yang saya ingin coba ajak kamu semua untuk mencoba berpikir seperti Ibu Lia Eden untuk menyelesaikan permasalahan di kehidupan nyata.

Semua orang pernah patah hati, banyak dari kita yang melakukan hal tidak wajar setelah menjadi korban percintaan. Ada yang menyendiri karena trauma, ada yang langsung bunuh diri karena merasa sudah tidak ada jalan keluar, ada juga yang langsung cari gebetan lain setelah 2 detik diputusin. Semua itu tidak akan terjadi kalau kita berpikir seperti Ibu Lia. Kamu akan bahagia ketika patah hati, karena kamu menganggap mantan kamu adalah titisan kaleng sarden. Jadi gak perlu kamu tangisi sebegitunya.

Katanya uang bukan yang paling utama, tapi nyatanya semua butuh uang, cuma kedip doang yang gratis. Kalau kita berpikir dengan cara biasa, pasti berbagai cara akan dilakukan untuk mendapatkan uang walaupun harus bersentuhan dengan kriminalitas seperti merampok, membegal, mencuri….mencuri curi pandang #azeek. Mungkin kalau kita berpikir seperti Lia Eden hasilnya akan berbeda. Ibu Lia selalu terlihat mengenakan baju sederhana yang berwarna putih, tidak terlalu banyak atribut. Kamu bisa tuh mencontoh kesederhanaannya, gak perlu beli baju mahal jadi kamu bisa hemat. Asal dicuci bersih pake Rinso Color maka pastilah kamu akan terlihat lebih cantik/tampan. (bagian rinso color udah dibold, kali aja humasnya ada yang mau minta nomer rekening)

Terlepas dari benar atau tidaknya keyakinan yang dia pegang, rasanya kita patut acungi jempol untuk kegigihan Ibu 4 anak ini dalam mempertahankan prinsipnya, padahal kita semua tahu Lia Eden sempat dipenjara. Sudah mulai jarang orang yang berpegang teguh dengan apa yang diyakini. Ada yang dulu gembar gembor anti-korupsi sekarang ditahan KPK, ada yang bilang pro rakyat tapi kebijakannya sama sekali gak menyejahterakan rakyat, ada yang katanya sayang tapi malah nyakitin.

Rasanya mungkin menyenangkan kalau bisa ngobrol santai bareng Lia Eden tanpa mencampuri prinsip masing-masing. Berbagi tentang bagaimana cara dia memandang dunia, tentang ufo, malaikat, dan titisan dewa dewi. Gak kebayang dia bilang ke saya “Wel, malaikat jibril nanti bakal nyetir UFO sendirian menjemput umat manusia yang terpilih, lalu kita semua akan pergi ke sebuah planet yang disebut surga, di sana nanti bukan cuma makhluk bumi tetapi ada makhluk dari planet lain juga, nanti kita akan dikelompokan berdasarkan tingkatan kebaikan terus masing-masing harus bikin yel-yel sama nyiapin kesenian buat pentas waktu api unggun”. BRILIAN!!

Saya percaya selalu ada hal positif yang bisa kita ambil dari apapun dan siapapun, termasuk Lia Aminuddin.

“halo kaleng sardennya aku, udah makan?” Ririn, 13thn, Primadona SMP 3 Petang Uganda

9 Comments on Mencoba Berpikir Seperti Lia Eden

  1. Di negeri penuh ironi ini, kita perlu sosok2x “out of the box” seperti Lia Eden untuk tampil di TV tiap hari menggantikan sosok sule, andre, nunung, dkk yang sudah outdated.

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*