Sensitif

Sadarkah kita bahwa emansipasi wanita saat ini semakin meluas. Dulu hanya sebatas pendidikan, yaitu perempuan berhak mengenyam pendidikan sama seperti yang didapatkan oleh laki-laki. Efeknya, tak jarang sekarang perempuan banyak yang lebih pintar, baik pintar dalam hal akademik maupun pintar memainkan perasaan lawan jenis HE HE HE HE. Dulu cuma cewek pms yang kebanyakan sensitif, sekarang banyak laki-laki ikutan sensitif. Emansipasi.

Keliru gak sih kalo punya badan gede berotot terus nangis pas diputusin? menurut saya gak keliru, karena patah hati dan air mata itu satu paket, kayak nasi ayam mekdi + pepsi. Lagi pula, masih ada perempuan yang liat cowok nangis malah horny (lupa namanya apa). Kalau laki-laki dicolek dikit terus curhat, butuh pelukan, butuh diperhatikan? gak keliru juga sih, toh itu semua saat ini sudah menjadi nasi putih yang merupakan kebutuhan kita hidup di bumi.

Sensitif yang keliru adalah sensitif yang merugikan orang lain. Saya ambil contoh kasus cita citata yang lagi hangat. Masih inget yang dia pake baju adat papua terus kalau gak salah bilang gini “Gimana? gak kayak papua kan?” (sambil memperlihatkan kecantikannya). Apa yang terjadi setelah itu? Jelaslah bangsa sosial media pun seketika ramai dengan membawa rasa sensitifnya masing-masing. Banyak yang tersinggung, banyak yang mencibir, banyak yang ngehujat. Errrr.

Tahu kenapa hal ini dipermasalahkan? Ya karena yang ngomong cita citata, coba kalo yang ngomong ningsih penjaga kios pulsa elektrik, gak bakal ada yang ribut. Saya kadang masih suka heran sama teman-teman rakyat Indonesia yang saya kasihi, mereka terlalu mudah tersinggung, mudah dihasut, mudah terpengaruh, mudah marah. Ini saya yakin orang – orang kayak gini kalo pacarnya napas pake pori-pori pasti bakal dimarahin.

Oke di atas tadi saya sudah sedikit mengkritik dan mengeluh, nggak adil dong kalo gak ngasih solusi kayak kebanyakan tukang kritik di luar sana. Baiklah, solusi dari saya untuk menghadapi hal-hal yang berpotensi menimbulkan ketersinggungan :

1. Berpikir Positif
Selalu berpikir yang baik kepada setiap situasi. Saya lebih banyak memikirkan hal yang baik ketimbang yang jelek. “Lebih” bukan berarti tidak pernah berpikir yang jelek. Mikir positif bikin kamu awet muda, disukai teman-teman, jauh dari gosip, hidup kamu bakal lebih bahagia. Dan perasaan bahagia inilah yang bikin kamu gak gampang tersinggung.
2. Hindari Sinetron
Sudah menjadi rahasia umum bahwa sinetron Indonesia saat ini hanya bertujuan untuk menghibur bukan mendidik. Percaya deh, nonton sinetron kebanyakan bisa bikin alam bawah sadar kamu keganggu, kamu bakal lebih gampang mikir negatif. Misalnya kamu cewek lagi makan di warung bakso, di seberang meja kamu juga ada cewek lain, mata kalian bertemu, dengan marah kamu nyamperin itu cewek sambil bilang “Apa lo liat2!! Gue tau lo pasti ngatain gue pake suara dalem ati kan!! Ngaku lo?!” . Tolong, kurangi nonton sinetron ya.
3. Budayakan Membaca
“Buku adalah Jendela Dunia”, itu yang dikatakan orang bijak. Membacalah, perluas wawasanmu. Tapi jangan cuma baca novel ya, baca berita penting tuh. Di era informatika kayak sekarang ini membaca berita semudah bikin cewek bete. Sekali klik udah bisa membaca banyak informasi yang ada di seluruh dunia. Wawasan yang luas dapat merubah cara pandangmu terhadap sekitar, kamu akan memiliki banyak referensi untuk memutuskan sesuatu. Kalo ada isu sensitif kamu bisa langsung cross-check ke sumber informasi yang ada di internet.

Itulah 3 solusi sotoy dari saya yang semoga bermanfaat buat teman-teman sekalian. Jadi boleh sensitif tapi jangan sampai keliru ya.

*ditulis dengan kasih*

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*