Tentang Patah Hati

Sekarang adalah hari ke-6 di tahun 2015, banyak yang menyatakan resolusi untuk tahun ini, ada yang melanjutkan tujuan yang belum tercapai di tahun lalu, menciptakan tujuan baru atau bahkan masih hidup tanpa tujuan. Mungkin sudah menjadi hal yang semestinya, berbagai macam prediksi mengenai apa yang bakal terjadi di tahun ini pun bergulir. Dari mulai kawin-cerai selebritis sampai ramalan bencana alam, Dari maraknya omongan kosong yang masih diragukan kebenarannya, saya mengamini suatu fenomena yang akan terjadi di tahun 2015, yaitu fenomena Patah Hati.

Menurut Kamus elektronik, Patah hati diartikan sebagai : (1) cabar hati; hilang keberanian; (2) hilang kemauan; tidak mau berusaha (berkumpul) lagi; (3) kecewa krn putus percintaan; kecewa krn harapannya gagal
Referensi: http://kamusbahasaindonesia.org/patah%20hati/mirip#ixzz3O13Mw6Gb

(entah mengapa pada definisi yang pertama disebutkan “cabar hati” , mungkin editor web tersebut anak alay rawamangun yang suka bonceng 3, mungkin, tapi mari kita kesampingkan hal tersebut)

Trend patah hati akan semakin marak dengan diikutinya lagu-lagu sendu di sekitar kita. Ambillah contoh band peramu lagu yang seakan membuat kita lebih memilih menenggak domestos nomos rasa aroma therapy ketimbang jasjus markisa, THE RAIN. Lagu pertama (yang saya dengarkan) sejak aksi comebacknya adalah “Terlatih Patah Hati”, lagu ini diciptakan untuk menyemangati setiap manusia yang hancur lebur hatinya karena ditinggal mantan. Part yang cukup absurd adalah ketika lirik “Terima kasih kalian, barisan para mantan” dikumandagkan. Sangatlah kurang kerjaan sekali mantan kita baris berjejer, kecuali jika mantan2 kamu satpol PP.

Belum cukup puas dengan “Terlatih Patah Hati” , The Rain mengeluarkan single baru berjudul “Gagal bersembunyi”. Lagu ini berkisah seseorang yang kangen mantan, mencoba memastikan diri sendiri kalau dia rela dan gak akan ngerebut mantannya itu dari pacar barunya walaupun hatinya hancur lebur. Kalau “TPH” mengajak kita nenggak domestos nomos, single kedua ini membawa kita untuk menyantap belut listrik hidup-hidup. Saya tidak dapat mendeskripsikan perasaan ketika mendengar lagu ini, yang jelas patah hati abang dek.. patahhh.

Setali tiga uang, Sheila On 7 pun mencoba peruntungan dengan menciptakan lagu “Lapang Dada”. Singkatnya, lagu ini bercerita tentang sepasang kekasih yang telah lama bersama, sampai pada titik si pria hendak melamar perempuan, tetapi kemudian si perempuan malah nikah sama orang lain. Gimana? Silakan tusuk-tusuk dada kamu pake jangka sorong.

Itu baru sebagian kecil dari blantika musik di Indonesia, masih ada jutaan lagu patah hati yang akan populer di era ini. Kini yang menjadi pertanyaan adalah “Apakah patah hati itu merupakan kesalahan?”, jawabannya bukan!. Patah hati bukanlah suatu kesalahan karena itu merupakan proses pendewasaan. Hal ini akan menjadi salah ketika kita melakukan hal buruk dengan alasan patah hati. Masih banyak hal yang dapat kita lakukan kok, justru kita harus memanfaatkan situasi tersebut untuk menghasilkan karya-karya yang ciamik.

Belajarlah dari Mozart, walaupun cintanya ditolak Aloysia Weber yang lebih memilih menikah dengan seorang dokter, Mozart tetap tegar menjalani hidup dan memanfaatkan rasa kecewanya untuk menciptakan simfoni2 terkenal sampai akhirnya dia menikah dengan Constanze Weber dan survive ketika mengalami berbagai krisis finansial. Bisa dibayangkan jika mozart menikahi Aloysia mungkin ceritanya akan lain.

Lalu Beethoven, 8 orang perempuan sudah dia dekati namun semua menolak karena kekurangan Beethoven (miskin dan tuli). Semua perempuan tersebut akhirnya menikah dengan orang yang lebih mapan. Coba bayangkan perasaan Beethoven kala itu, mungkin kalo dia denger lagunya “BRE – Setengah Mati” lebih memilih bunuh diri di punden berundak. Untunglah dia tegar, sehingga terus menghasilkan karya-karya yang dikenang sampai sekarang.

Penolakan juga menghinggapi kisah asmara tokoh dongeng asal Denmark, Hans Christian Andersen. Cintanya yang besar kepada Jenny Lind berujung menyedihkan karena Hans yang pemalu itu takut nembak Lind. Tetapi kemudian dia memberanikan diri nembak lewat surat, namun Lind menolak dan menikah dengan pria lain. Kalau Hans gak kuat mungkin sekarang kita gak pernah denger cerita “Little Mermaid”, “Gadis Penjual Korek Api”, atau “Itik yang buruk rupa”.

So, jangan sampai patah hati membuat kamu berhenti belajar. Terpuruk boleh, tapi jangan kelamaan. Manfaatkan perasaan sedihmu sekarang untuk menghasilkan sesuatu yang bermanfaat buat diri sendiri dan orang lain.

-udah.kaya.orang.bener.aja.lu.wel-

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*