Terlanjur Cinta

“Naik motor di Jakarta susah banget, tapi lebih susah lagi ngelupain kamu”, kata Armando Mendoza kepada Beatriz Solano. Mendengarnya, saya pun hanya mengangguk pelan sambil beberapa kali menenggak satu botol yakult.

Udah 2 tahun lebih saya hidup di Jakarta, herannya saya mulai merasa nyaman di tengah teman-teman pendatang yang justru malah mengeluh dengan keruwetan Ibu Kota. Mungkin karena saya sudah menerima, mengikhlaskan, dan mulai menikmati setiap kekurangan dan kelebihan kota ini. Sebagian besar teman mengeluhkan tentang transportasi, yang macet lah, begal, ketipu ojek, disasarin taksi, kecopetan di metro mini, gebetan jalan sama sahabat sendiri. Iya, saya pun mengamini itulah kekurangan Ibu Kota kita.

Pertama kali saya dateng ke Jakarta langsung kaget ngeliat banyak motor nangkring dengan santai di atas zebra cross padahal polisi berdiri tepat di sampingnya. Pengen banget negur tapi kayaknya gak efektif, kalah sama suara knalpot bajaj. Saya harus menerima dan berpikir positif bahwa mungkin zebra cross di Jakarta adalah tempat berkumpulnya pengendara sepeda motor. Belum cukup disitu, lampu lalin masih merah saya udah diklaksonin buat jalan, saya bingung dan berpikir positif mungkin pengendara belakang saya lagi buru-buru ke rumah pacarnya yang lagi deket sama orang lain, buat ngasih surprise. Dilema antara mentaati hukum atau ngasih jalan ke pengendara belakang. Karena diklakson terus maka dengan sigap saya pun menepi untuk mempersilakannya, gapapa deh gak taat hukum. Begitu nengok belakang ternyata yang nglakson pak polisi lagi ngawal pejabat. Aduh duh.

Pemandangan motor lewat trotoar pun di sini udah biasa. Gak jarang justru pejalan kakinya yang minta maaf, emang sih justru yang salah gengsi minta maaf hmmm. Motor lewat jalur transjakarta pun sudah lumrah, walau sedikit berkurang karena pernah ada shock therapy dengan diadakannya operasi pengamanan jalur oleh kepolisian yang mendenda pengendara sebesar ratusan ribu rupiah, tapi sekarang mungkin bapak polisi lagi punya urusan banyak jadi udah mulai jarang memfilter busway.

Dan masih banyak lagi keruwetan transportasi di kota ini. Tetapi mau gimanapun saya udah mulai nyaman dan menikmati. Ya emang gitu kalo udah terlanjur cinta.

“Bang, pilih naik motor atau naikin aku?”
– Euis , 29thn , Kalo masak mulai keasinan –

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*